Hubungan Agama dan Negara Dalam Islam



Di kalangan umat Islam pembicaraan hubungan agama dan Negara berkaitan langsung dengan hubungan istilah dalam Islam menyangkut din (agama) dan dawlah ( Negara). Pembicaraan ( yang mengarah pada perdebatan dketegangan) mengenai hubungan din dan dawlah ini menurut Azyumardi Azra tidak hanya berlangsung pada dewasa ini, melainkan lebih berlangsung sangat lama sejak abad ke satu hijriah.

Belakangan panjangnya ketegangan dan perdebatan tersebut telah melahirkan tiga aliran utama tentang  hubungan Islam dan Agama. Aliran pertama berpandangan bahwa Islam bukanlah semata-mata agama dalam pengertian Barat, yakni hanya menyangkut hubungan antara manusia dengan Tuhan, melainkan Islam adalah satu agama yang sempurna, paling tinggi, dan yang paling lengkap dengan peraturan bagi segala aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan bernegara. (http://aiirm59.blogspot.com) Tokoh utama dari aliran pertama ini adalah antara lain Syeh Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Syeh Muhammad Rasyid Ridha, dan Maulana Abdul A’la Al-Maududi.

Aliran kedua, berpendirian bahwa Islam adalah agama dalam pengertian Barat, yang tidak ada hubungannya dengan urusan kenegaraan. Menurut aliran ini Nabi Muhammad hanya sebagai nabi dan rasul biasa sepertihalnya nabi-nabi sebelumnya, dengan tugas tunggal mengajak manusia kembali kepada kehidupan agama. Rosul bukan dan tidak pernah menjadi seorang kepala Negara. Tokoh utama dari aliran ini adalah Ali Abd al- Raziq dan Dr. Thaha Husein.

Dan aliran ketiga berpendirian diantara kedua aliran diatas, yakni menolak pandangan bahwa Islam adalah suatu agama yang serba lengkap dan bahwa dalam Islam terdapat sistem ketatanegaraan. Kemudian aliran ini juga menolak pandangan bahwa Islam adalah dalam pengertian Barat yang hanya mengatur hubungan antara manusia dan Tuhannya. Aliran ini berpendirian bahwa dalam Islam tidak terdapat sistem ketatanegaraan, tetapi terdapat seperangkat tata nilai etika bagi kehidupan bernegara. Di antara tokoh aliran  ini adalah Dr. Mohammad Husein Haikal. 

            Hubungan Islam danNegara di Indonesia 

Secara umum hubungan Islam dan Negara di Indonesia dapat digolongkan ke dalam 2 (dua) bagian, yakni pertama hubungan yang bersifat antagonostik. Hubungan ini mencirikan adanya ketegangan antara Negara dan Islam politik (Political Islam) pada masa kemerdekaan samapai pada pasca revolusi pernah dianggap sebagai pesaing kekuasaan yang dapat mengusik basis kebangsaan Negara. Intinya pada masa ini Negara mencurigai Islam sebagai ancaman dan di cap sebagai kekuatan “ekstrem kanan” yang potensial dapat menandingi eksistensi Negara. Disini Negara terus berusaha menghalangi dan melakukan domestikasi terhadap gerak ideologis politik Islam. 

     Dan kedua hubungan yang bersifat akomodatif. Hubungn model ini setidaknya terjadi padamedio 1980-an. Hal ini ditandai dengan semakin besarnya peluangumat Islam dalam mengembangkan wacana politiknya dan muncul kebijakan-kebijakan yang dianggap positif bagi kalangan umat Islam. 

Ada beberapa alasan mengapa  tiba-tiba Negara bisa begitu mesra atau harmonis dengan Islam, misalnya menurut Affan Gaffar sebagaimana dikutif tim ICCE UIN Jakarta, adalah pertama, dari sisi pemerintah, Islam merupakan kekuatan yang tidak bisa diabaikan yang pada akhirnya bila diletakan pada posisi pinggiran akan menimbulkan masalah politik yang sangat rumit. Oleh karena itu sudah sewajarn ya diakomodasi, sehingga kemungkinan konflik dapat direndam lebih dini. Kedua, di kalangan pemerintah sendiri terdapat sejumlah figure yang tidak terlalu fobia terhadap Islam, bahkan memiliki dasar keislaman yang sangat kuat sebagai akibat dari latar belakangnya, missal B.J Habibie, Emill Salim, dan lain sebgainya. Mereka tentu saja berperan dalam membentuk sikap politik pemerintah paling tidak untuk tidak menajauhi Islam. Dan ketiga, adanya perubahan persepsi orientasi, sikap dan prilaku politik di kalangan Islam itu sendiri.

Ditulis Oleh : Ai Roudotul // 9:01 pm
Kategori:

0 Komentar Menarik:

Post a Comment

 

Follow dan Join yu .. :D

Aii Roudotul. Powered by Blogger.