Mengapa Manusia Tidak Pernah Puas ??

Nah, buat kawan - kawan ku yang rajin mengerjakan tugas,,, hhehehehe
Ini ada sedikit postingan mengenai Alasan mengapa manusia tidak pernah puas ??. Materi ini di ambil dari beberapa sumber. (Maaf situsnya ga disertain gan). :)

Pertama-tama pertanyaan tersebut banyak ditemukan dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial .. Tepatnya Kategori Ekonomi. Betul kan ?? Ya udah sekarang langsung aja, Kita ke TKP ..





Mengapa Manusia Tidak Pernah Puas?

Pernahkah anda ditanya dengan pertanyaan diatas? Atau paling tidak, pernahkah anda mendengar pertanyaan diatas? Lalu menurut anda, apakah jawaban yang sesuai dengan pertanyaan diatas?
Setiap makhluk hidup (kecuali tumbuhan) pasti memiliki hawa nafsu. Tuhan menciptakan makhluk hidup yang dapat digolongkan menjadi 3 golongan berdasarkan hawa nafsu. Golongan-golongan tersebut meliputi :
1.       Makhluk yang hanya memiliki akal namun tidak memiliki hawa nafsu2.       Makhluk yang hanya memiliki hawa nafsu namun tidak memiliki akal3.       Makhuk yang memiliki baik hawa nafsu dan akal

Makhluk yang pertama adalah makhluk-makhluk yang biasa kita sebut sebagai ‘malaikat’ atau makhluk-makhluk kasat mata lainnya. Makhluk yang kedua adalah hewan atau binatang. Mereka (hewan) bukan tidak memiliki akal, tetapi dalam kehidupannya sehari-hari mereka lebih mengandalkan nafsu atau ‘insting’ mereka. Tidak mungkin jika mereka (hewan) tidak memiliki akal dan pikiran. Jika mereka (hewan) tidak memilik akal dan pikiran, mereka tidak akan mungkin bisa bertahan hidup. Sedangkan kita (manusia) tergolong dalam golongan yang ketiga, yaitu makhluk yang memilik hawa nafsu serta akal dan pikiran. Kita adalah makhluk yang paling sempurna yang diberikan anugrah oleh Tuhan yang berupa akal pikiran dan hawa nafsu. Coba anda bayangkan ketika anda tidak diberikan hawa nafsu dan hanya diberikan akal serta pikiran saja. Contoh yang paling sederhana, anda tidak lagi memiliki nafsu makan. Anda pasti pernah merasakan perasaan yang biasa disebut ‘tidak nafsu makan’ bukan? Apakah rasanya enak? Menurut saya tidak. Selain itu jika kita tidak memiliki nafsu makan, maka anda bisa bayangkan tubuh anda akan kurus kering dan tipis seperti kayu (triplek). Tetapi coba pertanyaannya saya putar balik. Apakah hanya memiliki hawa nafsu itu enak? Menurut saya, hanya diberikan hawa nafsu memang lebih enak ketimbang hanya diberikan akal serta pikiran. Tetapi jika kita juga diberikan akal dan pikiran, kita pasti akan lebih bisa mengatur hawa nafsu yang ada dalam diri kita sendiri.
Ketidak puasan yang sifatnya sangat berlebihan akan menjerumuskan kita ke dalam jurang kelicikan dan dapat menyeret kita ke dalam lembah dosa. Seperti contoh orang-orang yang sangat suka dengan kata ‘korupsi’. Mereka melakukan korupsi seperti sudah menjadi kebutuhan sehari-hari mereka, yang bila mana tidak terpenuhi saat itu juga, mereka akan merasakan penderitaan yang sangat amat parah. Mereka (para pelaku korupsi) melakukan korupsi bak melakukan ibadah atau sembahyang lima waktu, bahkan mungkin terbalik. Mereka melakukan korupsi lima kali sehari, tetapi sama sekali tidak melakukan ibadah atau sembahyang yang seharusnya dilakukan lima kali sehari. Mengapa mereka demikian? Apakah mereka melakukan korupsi karena mereka orang yang sangat miskin yang tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan uang gaji mereka? Atau mereka melakukan korupsi hanya karena hobi dan di saat ada kesempatan?
Rasa puas manusia atau ambisi pada manusia, sangat berhubungan dengan kebutuhan manusia. Tingkat kebutuhan manusia sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Dalam beberapa hal pencapaian manusia dapat berbentuk materi untuk sebagian dapat berbentuk non materi. Pencapaian akan materi yang kemudian biasa kita sebut dengan ambisi walaupun pencapaian dalam bentuk non materi juga akan dimungkinkan termotivasi akan ambisi tetapi pencapaian akan non materi biasa nya akan bersifat kepuasan batin atau mental sehingga tingkat pengukuran nya sangat subyektif tetapi pencapaian materi sangat tidak terukur sehingga akan muncul perilaku yang cenderung kompulsif dan tidak terpuaskan. Pembedaan tingkat pencapaian manusia biasanya digunakan sebagai tolak ukur kematangan atau kedewasaan akan kebutuhan dalam ilmu psikologi.
 “Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya”. 
Pendapat tersebut dikemukakan oleh Steve Jobs dalam acara wisudanya di Stanford University.

Sebenarnya saya setuju dengan pendapat diatas, tetapi tidak setuju secara seratus persen. Steve Jobs mengatakan bahwa kita dapat memperoleh kepuasan sejati bila kita mengerjakan sesuatu yang hebat. Tetapi secara tidak langsung, beliau juga mengatakan bahwa kita harus terus mencari sesuatu tersebut. Dalam proses ‘terus mencari’ tersebut, bukankah sama halnya dengan menggunakan sifat alami manusia, yaitu tidak pernah puas?
Ketika pendapat Steve Jobs diatas dihubungkan dengan para koruptor di tanah air, ternyata memang memiliki kesamaan. Artinya, pendapat dari Steve Jobs diatas memang begitu adanya yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Lalu apa hubungannya para koruptor di tanah air dengan pendapat Steve Jobs diatas?
Steve Jobs mengatakan 
“… Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda menemukannya.” 
Dan benar saja, para koruptor terus melakukan tindak korupsi dan tidak pernah menyerah sampai hatinya mengatakan bila koruptor tersebut telah menemukan yang ia cari (dengan kata lain memperleh kepuasan). Tetapi seperti yang saya katakan sebelumnya, manusia tidak akan memperoleh kepuasan secara abadi kecuali manusia tersebut telah meninggal dunia. Jadi dengan kata lain, para koruptor tersebut terus melakukan tindak korupsi sampai ia meninggal dunia, karena perasaan puas adalah perasaan atau sesuatu yang alami. Sesuatu yang alami tidak akan pernah berubah apalagi hilang secara mutlak kecuali jika manusia atau individu tersebut belum meninggal dunia (dalam hal ini adalah perasaan tidak pernah puas).
Sifat kita yang tidak pernah puas bisa digambarkan sebagai air yang dikeluarkan oleh mata air yang berada di pegunungan. Air yang dikelaurkan oleh mata air di gunung tersebut akan mengalir sampai ke laut. Mengalir dari gunung sampai ke laut, dan dari laut air tersebut akan menguap karena panasnya matahari dan menjadi awan di lapisan ozon. Setelah menjadi awan, air itu akan tertiup oleh angin dingin dan akhirnya sampai di daerah pegunungan. Karena tertiup angin dingin, awan tersebut menurunkan air dan akhirnya terjadilah proses yang biasa kita sebut hujan. Lalu kemana air tersebut akan pergi? Air itu akan meresap ke tanah dan akan dikeluarkan lagi oleh mata air yang ada di pegunungan. Itu adalah sistem dari siklus air. Mengapa sifat kita yang tidak pernah puas saya gambarkan sebagai siklus air? Air memiliki siklus yang tidak akan pernah berhenti kecuali tiba saatnya kiamat ‘kubra’ (besar), sama seperti hawa nafsu kita. Kita tidak akan pernah mencapai kepuasan abadi, kecuali kita telah meninggal dunia atau wafat.
Seperti yang telah dikatakan, kita (manusia) adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki akal dan pikiran serta hawa nafsu. Tetapi bagaimana dengan hewan yang hanya memiliki hawa nafsu saja? Apakah mereka memiliki sifat yang tidak pernah puas juga? Sebenernanya hewan juga memiliki sifat yang tidak pernah puas pula. Kita ambil contoh, anda tahu tikus? Tikus adalah hewan pemakan segalanya atau yang biasa disebut omnivora bukan? Tikus adalah pemakan sampah (barang tidak terpakai), bisa juga memakan keju, atau pemakan buah (biasanya labu), atau bahkan kita tidak jarang mendengar bahwa tikus juga sering memakan kabel-kabel atau serat optik. Tetapi kita sebagai manusia, tidak bisa disamakan dengan tikus. Kita bahkan lebih rakus dari tikus! Dana atau biaya apa saja dapat kita ambil untuk membelanjakan atau membeli apa saja.
                Jadi seperti yang saya telah katakan sebelumnya, ketidak puasan yang sifatnya sangat berlebihan akan menjerumuskan kita ke dalam jurang kelicikan dan dapat menyeret kita ke dalam lembah dosa. Karena sifat manusia yang tidak pernah puas sama saja dengan sifat kita yang tidak pernah bersyukur. Diberi satu oleh Tuhan, kita pasti akan meminta dua. Diberi dua oleh Tuhan, kita pasti akan meminta 4, begitu seterusnya. Jadi, alangkah baiknya bila kita mencoba untuk belajar bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan ke kita. Jangan menjadi orang yang tidak pernah puas. Bila anda menjadi orang yang tidak pernah puas, niscaya Tuhan akan menarik anugrah yang telah diberikan ke kita. Belajarlah menjadi orang yang pandai bersyukur!



Nah itu dia kawan. Semoga Postingan Sederhana ini bermanfaat .
aamiin

Ditulis Oleh : Ai Roudotul // 1:31 pm
Kategori:

0 Komentar Menarik:

Post a Comment

 

Follow dan Join yu .. :D

Aii Roudotul. Powered by Blogger.